Kreatif! Tiga Siswa SMAN 1 Kalitidu Sulap Barang Bekas Jadi Komposter untuk Karya Tulis Remaja

BOJONEGORO — Tiga siswa SMA Negeri 1 Kalitidu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana. Dimas, Farel, dan Victoria berkolaborasi membuat komposter berbahan dominan barang bekas sebagai bagian dari persiapan mengikuti lomba karya tulis remaja bertema lingkungan.

Ketiganya merupakan siswa lintas jenjang kelas X, XI, dan XII yang sama-sama aktif dalam kegiatan sekolah serta memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan.

Saat ditemui media, Minggu (30/8/2026), ketiganya tengah mengembangkan komposter sederhana yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.

Menariknya, mereka berusaha menekan biaya pembuatan dengan menggunakan berbagai barang yang sudah tidak terpakai.

Dimas menjelaskan bahwa ide awalnya memang membuat sebuah alat yang sederhana, murah, tetapi tetap mempunyai manfaat nyata.

“Bahannya sederhana dan sebagian besar dari barang yang sudah tidak digunakan. Ada bak sampah bekas, paralon bekas, seng bekas, dan bahan lainnya. Untuk lem pun kami mencoba memanfaatkan styrofoam bekas. Yang harus dibeli hanya beberapa bagian tertentu, sekitar Rp25 ribu,” ujar Dimas.

Menurut Dimas, barang bekas yang selama ini dianggap tidak mempunyai nilai sebenarnya masih dapat dimanfaatkan apabila diolah dengan kreativitas.

Komposter tersebut dirancang untuk membantu proses pengolahan sampah organik, terutama sampah daun dan bahan organik lainnya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Sementara itu, Farel mengatakan bahwa karya mereka tidak semata-mata dibuat untuk memenuhi kebutuhan perlombaan. Ia berharap alat tersebut nantinya dapat diuji dan benar-benar memberikan manfaat.

“Lomba menjadi motivasi bagi kami untuk membuat karya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana karya sederhana ini bisa diterapkan. Kalau berhasil, sampah organik yang biasanya dibuang bisa kita olah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” kata Farel.

Menurutnya, keterlibatan siswa dalam persoalan lingkungan juga merupakan bagian dari proses pendidikan. Siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi sekaligus mencoba mencari solusi terhadap persoalan yang ditemui di lingkungan sekitar.

“Kita mulai dari apa yang ada dan dari sesuatu yang mampu kita kerjakan. Tidak harus mahal untuk bisa membuat sebuah inovasi,” tambahnya.

Victoria: Bisa Dikembangkan Menuju Pertanian Terintegrasi

Victoria melihat potensi pengembangan yang lebih luas dari komposter tersebut.

Menurutnya, apabila pengelolaan sampah organik dapat dilakukan secara konsisten, hasil kompos nantinya dapat dimanfaatkan kembali untuk penghijauan maupun budidaya tanaman di lingkungan sekolah.

“Manfaatnya bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga mendukung lingkungan yang lebih sehat. Ke depan mungkin bisa diarahkan menuju pertanian terintegrasi. Kita mulai dalam skala kecil terlebih dahulu. Semoga apa yang kami lakukan bisa menginspirasi kawan-kawan lainnya,” ungkap Victoria.

Gagasan tersebut membentuk sebuah siklus sederhana, yakni sampah organik diolah melalui komposter menjadi kompos, kemudian kompos dimanfaatkan untuk tanaman dan penghijauan sekolah.

Jika dikembangkan, konsep tersebut dapat menjadi salah satu bentuk pembelajaran lingkungan secara langsung bagi siswa.

Kolaborasi Lintas Kelas

Kolaborasi Dimas, Farel, dan Victoria juga menjadi menarik karena melibatkan siswa dari tiga jenjang kelas berbeda.

Perbedaan usia maupun tingkat kelas tidak menghalangi ketiganya untuk duduk bersama, bertukar pikiran, mencoba, melakukan evaluasi, hingga menyusun karya tulis berdasarkan inovasi yang mereka kembangkan.

Mereka berharap karya tersebut tidak berhenti setelah perlombaan selesai.

Komposter sederhana tersebut justru diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa pengelolaan lingkungan dapat dimulai dari sekolah dan dilakukan oleh siapa saja, termasuk para pelajar.

Dari bak sampah, paralon, seng, hingga bahan bekas lainnya, ketiga remaja tersebut membawa sebuah pesan sederhana:

“Sampah tidak selalu menjadi masalah. Dengan kreativitas, sesuatu yang tidak terpakai dapat diubah menjadi solusi.”

Melalui karya ini, Dimas, Farel, dan Victoria berharap dapat ikut menumbuhkan budaya peduli lingkungan sekaligus memberikan inspirasi menuju SMAN 1 Kalitidu yang semakin hijau, sehat, kreatif, dan terintegrasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top